Feed on
Posts
Comments
Dikisahkan, di sebuah kolam yang airnya berlumpur, di sana tumbuh pohon bunga teratai muda. Pohon itu tumbuh dengan beberapa helai daun yang hijau dan kuncup, serta sekuntum bunga lotus1teratai berwarna merah di atasnya. Saat malam mulai meninggalkan peraduan, angin dingin berhembus perlahan membawa halimun dan kemudian berubah menjadi tetes-tetes embun di antara daun-daun teratai.

Suatu hari, ketika daun teratai membuka mata memulai sebuah pagi yang cukup dingin, ia merasa takjub dengan alam sekitarnya. Tiba-tiba si daun teratai tersadar, di atas tubuh hijau daunnya ada setitik embun yang begitu lembut dan bening. Dengan ceria disapanya si embun, “Hai, Engkau siapa? Dari mana datangmu dan bagaimana bisa tiba-tiba berada di atas punggungku?”

Si embun pun menjawab,” Aku biasa dinamakan Embun. Saat menjelang pagi, di alam semesta ini ada uap air yang terbawa hembusan angin dingin yang kemudian menciptakan titik air, inilah yang menjadikannya seperti diriku sekarang ini.”

“Wah, aku senang sekali bisa berteman dan ngobrol denganmu,” kata si daun teratai.

“Tapi maaf teman baruku. Bila sebentar lagi matahari mulai bersinar, aku pun harus segera pergi, karena begitulah sifat alam, adanya embun di pagi hari sebentar kemudian akan segera menguap bila tertimpa sinar matahari,” ujar embun kepada daun teratai.

Si daun yang merasa mendapat teman baru memohon kepada embun, “ Tolong tetaplah di sini, jangan pergi.” Namun, seperti yang dikatakan embun, saat matahari menyinari bumi dengan kehangatannya, embun itu pun segera berlalu dari tubuh daun teratai.

Keesokan harinya, saat daun teratai kembali memulai hari, dia begitu gembira. Rupanya, ia melihat embun kembali berada dipunggungnya. Maka, dia pun menyapa riang embun itu, “Hai sobat, kita berjumpa lagi.”

Tapi, embun itu berkata,”Hai juga, aku embun baru, kita belum saling kenal.”

“Lho, bukankah Kamu embun yang kemarin?”

“Bukan! Aku embun hari ini, aku tidak ada kaitannya dengan embun yang kemarin,” ujar embun yang membuat daun heran. Belum sempat teratai bertanya lebih jauh, embun itu pun segera menguap kembali tertimpa sinar matahari.

Peristiwa serupa pun terjadi dari hari ke hari dan setiap hari daun teratai tetap tidak mengerti, mengapa embun yang sama bentuknya, setiap hari selalu tidak mengakui dirinya sebagai embun yang kemarin. Maka, hari-hari pun berlalu terus hingga berganti bulan. Si daun teratai pun berumur semakin tua. Akhirnya, ia pun mulai terkoyak dan selanjutnya menguning. Hari demi hari telah dilalui hingga kini saatnya ia akan digantikan oleh tunas daun teratai yang baru.

Pembaca yang berbahagia,

Tanpa sadar, terkadang kita merasakan bahwa hari-hari berlalu begitu saja, bahkan seolah tanpa ada perubahan. Hari ini sepertinya sama saja dengan hari kemarin. Tak jarang kita merasa melewati keadaan yang sama dari waktu ke waktu. Jika itu yang kita rasakan, sebenarnya kita sedang terjebak dalam rutinitas keseharian yang menjemukan. Dan, bila itu dibiarkan terus menerus, maka sebenarnya kita sudah termasuk orang yang merugi.

Karena itu, sudah saatnya kita memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas kemampuan, dengan mengisi hari agar jauh lebih berarti.

Sebab, sebenarnya, setiap hari adalah hari yang baru, hari yang berbeda dari kemarin. Setiap hari adalah kenyataan baru yang harus kita syukuri dengan membuatnya penuh makna. Hari ini boleh jadi mirip dengan hari kemarin. Tetapi, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena itu, jika kita melakukan kesalahan pada hari kemarin, hari ini juga harus segera dikoreksi. Jika kita telah melakukan kebajikan di hari kemarin, hari ini harus lebih banyak lagi kebaikan yang kita sebarkan.

Berjalannya waktu, takkan pernah terulang. Tak ada guna menyesali waktu kemarin yang telah pergi. Sebab, kita hidup pada hari ini. Untuk itu, mari mengisi hari baru kita dengan semangat yang menyala untuk membuat, ming tian hui geng hao ? ? ? ? ? hari esok menjadi hari yang lebih baik dari ini. Tak perlu bersedih berpisah dengan hari kemarin, jangan pula merasa resah dengan kegagalan yang telah lalu, sebab kita bisa memperbaikinya hari ini.

Jangan biarkan hari ini hanya menguap begitu saja tanpa arti. Jadikan hari ini laksana embun-embun indah yang menghiasi teratai, yang meski kan menghilang kehadirannya telah membawa nilai keindahan tersendiri.

Mari kita ukir hari ini dengan prestasi!

Comments are closed.